NARKOBA adalah singkatan dari NARkotika, psiKOtropika dan Bahan Adiktif lainnya. Pengertian lebih jelasnya adalah sebagai berikut :

  1. NARKOTIKA adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
  2. PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
  3. BAHAN ADIKTIF LAINNYA adalah bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan.
  4. MINUMAN BERALKOHOL adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian ataupun secara sintetis yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi destilasi atau fermentasi tanpa destilasi, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol.

Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu.

Narkoba masuk ke Indonesia diperkirakan sekitar abad 17. Jenis narkoba yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah tanaman ganja. Tanaman ini dibawa oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Ganja (cannabis sativa)yaitu tumbuhan yang mengandung zat THC (Tetra Hidrocannabinol) serta asam canabinol. Zat tersebut akan memengaruhi kerja otak sehingga dapat memabukkan pemakainya.

Pada tahun 1860 orang-orang Belanda mulai menanam ganja secara besar-besaran terutama di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1863 pemerintah Kolonial Belanda melaksanakan monopoli perdagangan candu di Kasultanan Siak (Sumatra). Di pulau Sumatra ternyata ganja dapat tumbuh sangat subur. Maka sampai sekarang di Aceh banyak ditemukan ladang ganja.

Selain tanaman ganja, pada tahun 1960, heroin, morfin, kokain, dan amphetamine telah ditemukan di Bali dan Jakarta.

Mengapa di Bali banyak ditemukan narkoba? Tentu saja sebab Bali sangat terkenal di luar negeri sebagai daerah wisata. Para wisatawan asing inilah yang membawa narkoba ke Bali. Di pulau Bali para bandar narkoba internasionalmelakukan transaksi (jual-beli) narkoba. Orang-orang Indonesia pun kemudian terlibat dalam perdagangan tersebut. Selanjutnya pada tahun 1990 golongan amphetamine seperti ekstasi dan sabu-sabu muncul secara besar-besaran di Indonesia. Jadi tidak hanya di Jakarta dan Bali tetapi hampir merata di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Narkoba cepat sekali berkembang di Indonesia, tentu saja karena letak negara kita berada di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan kawasan Asia Tenggara dikenal sebagai daerah produsen (penghasil) narkotik terbesar di dunia. Oleh karena dikenal sebagai penghasil narkoba terbesar itulah, maka Asia Tenggara dikenal sebagai daerah “Segi Tiga Emas” atau “The Golden Triangle”. Adapun yang dimaksud dengan daerah segi tiga emas adalah Burma, Muangthai, dan Laos. Dari daerah segi tiga emas inilah narkotik diedarkan ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Bagaimanakah narkoba dapat memasuki wilayah Indonesia dengan mudah? Narkoba masuk Indonesia melalui jalur lintas perdagangan gelap narkotik dunia sebagai berikut.

  1. Dari Bangkok menuju Malaysia kemudian masuk ke Indonesia melalui Kepulauan Riau.
  2. Dari Hongkong ke Singapura, melalui beberapa kota di Sumatra dan sampailah di Jakarta dan Bali.
  3. Dari Malaysia menuju Tarakan, Samarinda, Surabaya, dan Bali.
  4. Dari Bangkok langsung ke Jakarta.

Pemerintah Belanda memberikan izin pada tempat-tempat tertentu untuk menghisap candu dan pengadaan (supply) secara legal dibenarkan berdasarkan undang-undang. Orang-orang Cina pada waktu itu menggunakan candu dengan cara tradisional, yaitu dengan jalan menghisapnya melalui pipa panjang. Hal ini berlaku sampai tibanya Pemerintah Jepang di Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang menghapuskan Undang-Undang itu dan melarang pemakaian candu (Brisbane Ordinance).

Ganja (Cannabis Sativa) banyak tumbuh di Aceh dan daerah Sumatera lainnya, dan telah sejak lama digunakan oleh penduduk sebagai bahan ramuan makanan sehari-hari. Tanaman Erythroxylon Coca (Cocaine) banyak tumbuh di Jawa Timur dan pada waktu itu hanya diperuntukkan bagi ekspor. Untuk menghindari pemakaian dan akibat-akibat yang tidak diinginkan, Pemerintah Belanda membuat Undang-undang (Verdovende Middelen Ordonantie) yang mulai diberlakukan pada tahun 1927 (State Gazette No.278 Juncto 536).

Meskipun demikian obat-obatan sintetisnya dan juga beberapa obat lain yang mempunyai efek serupa (menimbulkan kecanduan) tidak dimasukkan dalam perundang-undangan tersebut.

Setelah kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia membuat perundang-undangan yang menyangkut produksi, penggunaan dan distribusi dari obat-obat berbahaya (Dangerous Drugs Ordinance) dimana wewenang diberikan kepada Menteri Kesehatan untuk pengaturannya (State Gaette No.419, 1949).

Baru pada waktu tahun 1970, masalah obat-obatan berbahaya jenis narkotika menjadi masalah besar dan nasional sifatnya. Pada waktu perang Vietnam sedang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, maka hampir di semua negeri, terutama di Amerika Serikat penyalahgunaan obat (narkotika) sangat meningkat dan sebagian besar korbannya adalah anak-anak muda. Nampaknya gejala itu berpengaruh pula di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Menyadari hal tersebut maka Presiden mengeluarkan instruksi No.6 tahun 1971 dengan membentuk badan koordinasi, yang terkenal dengan nama BAKOLAK INPRES 6/71, yaitu sebuah badan yang mengkoordinasikan (antar departemen) semua kegiatan penanggulangan terhadap berbagai bentuk yang dapat mengancam keamanan negara, yaitu pemalsuan uang, penyelundupan, bahaya narkotika, kenakalan remaja, kegiatan subversif dan pengawasan terhadap orang-orang asing.

Kemajuan teknologi dan perubahan-perubahan sosial yang cepat, menyebabkan Undang-Undang narkotika warisan Belanda (tahun 1927) sudah tidak memadai lagi. Maka pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-Undang No.9 tahun 1976, tentang Narkotika.

Undang-Undang tersebut antara lain mengatur berbagai hal khususnya tentang peredaran gelap (illicit traffic). Disamping itu juga diatur tentang terapi dan rehabilitasi korban narkotik (pasal 32), dengan menyebutkan secara khusus peran dari dokter dan rumah sakit terdekat sesuai petunjuk menteri kesehatan.

Dengan semakin merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia, maka UU Anti Narkotika mulai direvisi. Sehingga disusunlah UU Anti Narkotika nomor 22/1997, menyusul dibuatnya UU Psikotropika nomor 5/1997. Dalam Undang-Undang tersebut mulai diatur pasal-pasal ketentuan pidana terhadap pelaku kejahatan narkotika, dengan pemberian sanksi terberat berupa hukuman mati.

Dan jauh sebelum Indonesia mengenal narkoba, sekitar tahun 2000 SM di Samaria dikenal sari bunga opion atau kemudian dikenal opium (candu = papavor somniferitum). Bunga ini tumbuh subur di daerah dataran tinggi di atas ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Penyebaran selanjutnya adalah ke arah India, Cina dan wilayah-wilayah Asia lainnya, cina kemudian menjadi tempat yang sangat subur dalam penyebaran candu ini (dimungkinkan karena iklim dan keadaan negeri). Memasuki abad ke XVII masalah candu ini bagi cina telah menjadi masalah nasional, bahkan di abad XIX terjadi perang candu dimana akhirnya cina ditaklukan Inggris dengan harus merelakan Hong Kong.

Baca juga :

Tahun 1806 seorang dokter dari Westphalia bernama Friedrich Wilhelim sertuner menemukan modifikasi candu yang dicampur amoniak yang kemudian dikenal sebagai Morphin (diambil dari nama dewa mimpi Yunani yang bernama Morphius). Tahun 1856 waktu pecah perang saudara di A.S. Morphin ini sangat populer dipergunakan untuk penghilang rasa sakit luka-luka perang sebahagian tahanan-tahanan tersebut “ketagihan” disebut sebagai “penyakit tentara”. Tahun 1874 seorang ahli kimia bernama Alder Wright dari London, merebus cairan morphin dengan asam anhidrat (cairan asam yang ada pada sejenis jamur) campuran ini membawa efek ketika diuji coba kepada anjing yaitu: anjing tersebut tiarap, ketakutan, mengantuk dan muntah-muntah.

Namun tahun 1898 pabrik obat “Bayer” memproduksi obat tersebut dengannama Heroin, sebagai obat resmi penghilang sakit (pain killer). Tahun 60-an – 70-an pusat penyebaran candu dunia berada pada daerah “Golden Triangle” yaitu Myanmar, Thailand dan Laos, dengan produksi 700 ribu ton setiap tahun. Pada daerah “Golden Crescent” yaitu Pakistan, Iran dan Afganistan dari Golden Crescent menuju Afrika dan Amerika.

Selain morphin dan heroin adalagi jenis lain yaitu kokain (ery throxylor coca) berasal dari tumbuhan coca yang tumbuh di Peru dan Bolavia. Biasanya digunakan untuk penyembuhan Asma dan TBC. Pada akhir tahun 70-an ketika tingkat tekanan hidup manusia semakin meningkat serta tekhnologi mendukung maka diberilah campuran-campuran khusus agar candu tersebut dapat juga dalam bentuk obat dan pil.

Itulah sebabnya sekarang ini aneka macam serta bentuk narkoba telah masuk  dan beredar di Indonesia. Akibatnya dari waktu ke waktu pengguan narkotik dan obat-obatan terlarang selalu bertambah banyak. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah sebagian besar pengguna narkoba justru dari kalangan remaja. Tentu saja sangat berpengaruh terhadap perkembangan negara kita. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana keadaan negara  kita, jika generasi mudanya telah rusak akibat narkoba.

Indonesia yang semula sebagai tempat transit (singgah) jalur perdagangan narkoba internasional, sekarang telah berubah menjadi negara produsen (Penghasil) obat-obatan terlarang seperti ekstasi dan sabu-sabu. Letak Indonesia yang berada pada jalur perdagangan gelap narkotik internasional, harus meningkatkan pengawasan yang ekstra ketat. Tujuannya agar generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa tidak hancur akibat narkotik. Para penegak hukum kesulitan untuk menangkap para pelaku kejahatan penyalahgunaan narkotik, karena sudah melibatkan jaringan narkotika nasional. Sehingga untuk memutus mata rantai jalur perdagangan internasional perlu dijalin kerjasama dengan negara-negara tetangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here